Pages

Senin, 18 Maret 2013


MANUSIA DAN PENDIDIKAN
DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Begitu sentralnya posisi manusia sebagai makhluk Tuhan, hampir semua ilmu pengetahuan menjadikannya sebagai obyek studinya. Bukan hanya ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tetapi sebagian ilmu-ilmu kealaman dan eksakta juga menjadikan manusia sebagai obyek studinya. Yang membedakan antara ilmu-ilmu tersebut adalah perbedaan sudut pandang terhadap manusia sesuai dengan disiplin masing-masing. Misalnya biologi mengkaji manusia dari aspek biologisnya, kedokteran mengkaji manusia dari aspek kesehatan atau medis, ilmu politik, ekonomi dan seterusnya. Sedangkan ilmu pendidikan membahas manusia dari sudut pandang fenomena dan aktivitasnya dalam pendidikan.[1] Berbagai disiplin ilmu yang dihasilkan dari kajian terhadap manusia tersebut menunjukan betapa manusia memiliki berbagai potensi yang dimilikinya. Sehingga, proses penelaahan manusia menjadi suatu grand tema bagi

KANDUNGAN MAKNA DALAM
SURAT AL-AN’AM AYAT 125
2011

I.        Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Kitab ini bukan hanya sebagai tuntunan bagi seorang muslim untuk beribadah saja, melainkan juga sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat lengkap. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk yang sungguh sempurna dalam penciptaannya yang dianugrahi akal dan hati, dituntut untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya. Maka al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia sangat berperan bagi

Peran Pendidikan Bagi Manusia

A.    Manusia
Sebelum memulai diskusi mengenai pendidikan, alangkah baiknya kita mengkaji terlebih dahulu siapa, kenapa dan bagaimana yang terlibat dalam proses pendidikan. Sebagai sebuah proses tanpa henti, pendidikan melibatkan manusia sebagai pelaku utama dalam proses pendidikan (subyek). Manusia merupakan makhluk yang memiliki sejarah masa lalu, masa kini, serta masa yang akan datang. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki potensi-potensi yang harus dikembangkan dalam rangka menjadikan manusia sebagai makhluk yang dapat berpikir kritis terhadap hidup dan kehidupannya. Karena itu, sebagai makhluk yang memiliki keinginan, harapan, masa depan, cita-cita dan seterusnya, menjadi tuntutan bagi manusia dalam melakukan proses pendidikan. Jika disebutkan di atas tadi bahwa pelaku pendidikan sendiri adalah manusia, maka sebagai obyek dari proses pendidikan adalah pengalaman yang ada pada manusia.
Manusia memiliki potensi

Pendidikan Pembebasan Dalam Konfigurasi Paulo Freire
Oleh ; Jajat Darojat, S.Pd.I.,MSI

Membicarakan pendidikan akan selalu hangat untuk didiskusikan, berbagai lokus serta latar belakang kehidupan yang berbeda-beda membuat pendidikan tidak menemukan titik finis dalam perkembangannya. Alasan paling mendekati adalah adanya perkembangan serta peradaban manusia yang selalu berkembang, walaupun pada dasarnya perkembangan manusia tersebut tidak terlepas dari proses pendidikan yang dijalani oleh manusia. Oleh karena itu, dua elemen penting yang menjadi fundamen dalam proses pendidikan adalah manusia dan realitas dunia. Artinya, elemen yang pertama, yang disebut manusia adalah sebagai subyek yang sadar (cognitive), sementara elemen yang kedua merupakan obyek yang tersadari atau disadari (cognizable). Hubungan dialektis inilah yang terdapat pada proses pendidikan. Oleh karena itu, melalui sistem pendidikan yang menentukan serta membentuk “karakter”, cara pandang manusia terhadap dunia dan lingkungannya. Maka hal tersebut dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut;
 


                                                         Sistem pendidikan



Sistem pendidikan yang disebut Paulo Freire dengan istilah “pendidikan gaya Bank” (Banking concept of education) adalah salah satu pendidikan yang pernah diterapkan di Brazil. Dalam konstelasi pendidikan gaya Bank ini, Freire menjelaskan adanya praktek pendidikan yang dogmatis karena

POTRET PENDIDIKAN KITA
Oleh ; Jajat Darojat, S.Pd.I.,MSI

A.    Landasan Berpikir
Berbicara mengenai pendidikan memang tidak ada habisnya. Mulai dari persoalan moral (akhlak) sampai pada dataran status social seseorang. Namun demikian juga pendidikan menjadi tolak ukur  status social terhadap seseorang atau anak didik. paradigma publik yang terbentuk adalah jika seorang anak didik masuk dalam suatu lembaga pendidikan, maka dapat digolongkan apakah anak didik tersebut status sosialnya termasuk golongan kelas atas, atau bahkan hanya kelas bawah. Jadi sudah jelas sekali dalam dunia pendidikan kita sudah ada sekat antara si kaya dan si miskin. Lihat saja, ketika kita memandang sesorang belajar di kampus tertentu maka main set seseorang terhadap mahasiswanya maka bisa ditebak status sosialnya. Memang persoalan pendidikan merupakan persoalan sangat krusial sehingga rawan akan berbagai kepentingan. Sehingga dapat dilihat bahwasannya persoalan kita begitu kompleks dan ini menjadi tugas manusia sebagai Khalifah fil Ardl[1].
Pengertian secara epistemology pendidikan adalah “sebagai usaha sadar yang dilakukan manusia” atau jika meminjam perkataannya Mastuhu yaitu “memanusiakan manusia” atau mengangkat harkat dan martabat manusia (Human dignity),[2] maka Paulo Friere pun mengatakan  bahwa pendidikan merupakan jalan untuk menuju pembebasan yang permanen dan itu terdiri dari dua tahap, yakni Pertama, dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, dan melalui praksis mengubah keadaan itu. Kedua, dibangun di atas tahap pertama, yang merupakan sebuah proses tindakan cultural yang membebaskan.[3] Jika kita mendefinisikan sendiri, maka yang dapat kita artikan bahwa sesungguhnya pendidikan itu sebagai wadah seseorang untuk menjadi lebih baik serta mampu menjawab persoalan yang ada disekitarnya, sehingga manusia tersebut mampu menghadapi atau menjawab tantangan zaman. Artinya pendidikan itu sebagai proses hominisasi dan humanisasi terhadap manusia itu sendiri. Dengan kata lain pendidikan bukan hanya membentuk manusia supaya cerdas akan tetapi pendidikan juga membentuk manusia sebagai mahluk social, atau mahluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain.
“Education for all” adalah

HOLISTIKA PENDIDIKAN NASIONAL

Proses pendidikan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, karena manusia sebagai makhluk yang independen mempunyai kebebasan dalam upaya mengkreasi dirinya dalam setiap dinamika sosial yang terjadi. Namun kebebasan tersebut tidak lahir secara instan dan datang begitu saja, akan tetapi perlu adanya kesadaran dan indentifikasi terhadap kesadaran serta kenyataan yang ada disekitarnya. Kesadaran inilah yang disebut oleh Paulo Freire dengan “pendidikan pembebasan”. Oleh karena itu dalam pendidikan pembebasan, Freire meletakkan manusia sebagai subyek dari proses pendidikan dan realitas sebagai obyeknya, dan hal ini ia sebut dengan konsep pendidikan yang “memanusiakan manusia.” Dalam wilayah pendidikan pembebasan, peserta didik dan pendidik dianggap sama derajatnya, hanya saja pendidik dalam proses pendidikan adalah evaluator, motivator, pasilitator, korektor, dan lainnya, sehingga peserta didik adalah sebagai pelaku dari proses pendidikan itu sendiri. Dengan demikian, metode tersebut mendasarkan diri pada dialog dan partisipasi antara personil pendidikan, yang merupakan hubungan horizontal antara peserta didik dan pendidik. Hal ini dimaksudkan, bahwa pendidikan bukanlah suatu proses indoktrinasi, konsevatif (pendidikan ala banking). Pendidikan ala banking adalah pendidikan yang hanya menitik beratkan pada transfer ilmu, dari satu orang ke orang lain.
Dalam konsep pendidikan tersebut, Freire menjelaskan bahwa syarat utama dalam proses pendidikannya dibutuhan dialogis-partisipatoris sehingga terjadi kesadaran yang utuh, yang bersandar pada suatu kenyataan ilmiah. Artinya proses pendidikan tidak seperti “menara gading” yang memisahkan manusia dengan kehidupannya. Secara sederhana, Freire sendiri mendeskripsikan kesadaran manusia (consciousness) dalam proses pendidikan, terbagi menjadi tiga yaitu;
1.      Kesadaran magis (magical consciousness), yakni tingkat kesadaran yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dan faktor lainnya. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketidak berdayaan. Proses yang menggunakan logika ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistem dan struktur terhadap suatu permasalahan masyarakat.

KOMERSIALISASI PENDIDIKAN
Manusia adalah makhluk sosial (social human) yang memiliki kemampuan, keinginan, akal pikiran, rasio, dan segala potensi lainnya yang meliputi kemampuan skill. Dalam kategori lain, manusia juga dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yaitu  makhluk yang memiliki sejarah masa lalu, masa kini, dan akan memiliki masa yang akan datang. Maka, dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk pendidikan (the create education), karena ia senantiasa memiliki pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang didapatkan tersebut akan berpengaruh terhadap segala potensi yang disebutkan di atas tadi, seperti pemikiran, keinginan, kemampuan, bahkan pada karakter manusia itu sendiri. Pendidikan merupakan proses atau upaya manusia dalam meningkatkan taraf derajat dan martabat manusia dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain bahwa pendidikan adalah salah satu bagian dari kegiatan manusia yang tidak dapat terpisahkan dalam interaksi sosial masyarakat. Karena itu, pendidikan merupakan suatu yang inheren dalam kegiatan manusia. Namun dalam pengertian lama, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jadi segala sesuatu dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hal adat, budaya, bahkan kepercayaan adalah bagian dari proses pewarisan budaya atau disebut dengan pendidikan. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan proses terciptannya pengalaman hidup manusia. Dan dari proses terciptanya pengalaman masa lalu dan masa sekarang tersebut manusia dapat mengambil pelajaran dan merencanakan sesuatu terhadap masa depan hidupnya.